Bagaimana rasanya jika anda memiliki rasa cinta kepada seseorang ? senang ? bahagia ? mungkin bagi anda yang memiliki “selera” normal, pasti jawabannya iya. Tapi kemudian pernahkah terpikir oleh anda, orang-orang yang memiliki “selera” yang lain daripada yang lain. Selera yang dianggap “tidak biasa” oleh kebanyakan orang, selera yang dianggap tabu, selera yang bisa membuat orang yang merasakannya terkucilkan dari pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya.
Cinta yang tulus dalam hatiku
Membuang semua hasrat dan mimpiku
Tuk bisa, menyatakan sayang
Tuk bisa, mengungkapkan semua
Kepada dirimu
Mungkin, seperti lirik di atas, apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki selera tidak biasa tadi. Mereka-mereka yang memiliki rasa kepada seseorang tetapi harus membuang jauh hasrat mereka untuk menyatakannya, hasrat yang rasanya akan sulit diterima. Terlebih bagi orang-orang yang tidak merasakan hal yang sama dengannya, dan mungkin juga bagi orang yang justru memberikan hasrat tersebut bagi dirinya.
Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungkin
Tuk bisa, kau terima semua
Tuk bisa, kunyatakan rasa kucinta kamu
Sulit dan tak mungkin, begitu rasa yang dimiliki oleh orang dengan selera berbeda ini. Sulit karena akan mendapatkan berbagai tantangan dari berbagai sisi dan tak mungkin karena hasrat yang dimilikinya tidak dimiliki juga oleh sang penakluk hati. Dilema, begitu mungkin kata yang dapat mewakili orang dengan selera berbeda ini, dilema yang tak kunjung mendapat jalan keluar, selalu dan selamanya berada di persimpangan.
Ketika bunga tak bermekar lagi
Dan dunia tak mungkin berputar lagi
Saat cinta tlah membakar hati ini
Kau kan tahu
Betapa aku mencintaimu
Betapa aku menginginkan kamu
Ya, mungkin hingga dunia ini berakhir, penantian panjang itupun akan berakhir. Berakhir, dengan tidak ada penyelesaian, berakhir hanya karena memang semuanya sudah harus berakhir. Bisa jadi ini yang memang diinginkan orang dengan selera berbeda ini, berakhir. Hanya saja karena tidak ada yang bisa dilakukannya untuk mengakhiri dilemanya, menunggu dengan sabar hingga semuanya berakhir sendiri, adalah keputusan bijak orang dengan selera berbeda ini.
Terinspirasi dari percakapan aneh dengan seorang teman, tentang lagu Waktu yang dinanti-Ungu, kepada siapa sebenarnya lagu ini ditujukan.
NB : Saya tidak termasuk orang dengan selera yang berbeda !
Cari Blog Ini
Rabu, 20 Juni 2012
GAY
Cinta, jika berbalas tentu akan menyenangkan, akan membuat yang merasakannya seperti terbang hingga langit ketujuh, kata pujangga. Tapi jika tidak, membuat yang merasakannya terbang juga hingga langit ketujuh, tapi kemudian dihempaskan dengan keras kembali ke bumi, kata saya.
Bagaimana rasanya jika anda memiliki rasa cinta kepada seseorang ? senang ? bahagia ? mungkin bagi anda yang memiliki “selera” normal, pasti jawabannya iya. Tapi kemudian pernahkah terpikir oleh anda, orang-orang yang memiliki “selera” yang lain daripada yang lain. Selera yang dianggap “tidak biasa” oleh kebanyakan orang, selera yang dianggap tabu, selera yang bisa membuat orang yang merasakannya terkucilkan dari pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya.
Cinta yang tulus dalam hatiku
Membuang semua hasrat dan mimpiku
Tuk bisa, menyatakan sayang
Tuk bisa, mengungkapkan semua
Kepada dirimu
Mungkin, seperti lirik di atas, apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki selera tidak biasa tadi. Mereka-mereka yang memiliki rasa kepada seseorang tetapi harus membuang jauh hasrat mereka untuk menyatakannya, hasrat yang rasanya akan sulit diterima. Terlebih bagi orang-orang yang tidak merasakan hal yang sama dengannya, dan mungkin juga bagi orang yang justru memberikan hasrat tersebut bagi dirinya.
Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungkin
Tuk bisa, kau terima semua
Tuk bisa, kunyatakan rasa kucinta kamu
Sulit dan tak mungkin, begitu rasa yang dimiliki oleh orang dengan selera berbeda ini. Sulit karena akan mendapatkan berbagai tantangan dari berbagai sisi dan tak mungkin karena hasrat yang dimilikinya tidak dimiliki juga oleh sang penakluk hati. Dilema, begitu mungkin kata yang dapat mewakili orang dengan selera berbeda ini, dilema yang tak kunjung mendapat jalan keluar, selalu dan selamanya berada di persimpangan.
Ketika bunga tak bermekar lagi
Dan dunia tak mungkin berputar lagi
Saat cinta tlah membakar hati ini
Kau kan tahu
Betapa aku mencintaimu
Betapa aku menginginkan kamu
Ya, mungkin hingga dunia ini berakhir, penantian panjang itupun akan berakhir. Berakhir, dengan tidak ada penyelesaian, berakhir hanya karena memang semuanya sudah harus berakhir. Bisa jadi ini yang memang diinginkan orang dengan selera berbeda ini, berakhir. Hanya saja karena tidak ada yang bisa dilakukannya untuk mengakhiri dilemanya, menunggu dengan sabar hingga semuanya berakhir sendiri, adalah keputusan bijak orang dengan selera berbeda ini.
Terinspirasi dari percakapan aneh dengan seorang teman, tentang lagu Waktu yang dinanti-Ungu, kepada siapa sebenarnya lagu ini ditujukan.
NB : Saya tidak termasuk orang dengan selera yang berbeda !
Bagaimana rasanya jika anda memiliki rasa cinta kepada seseorang ? senang ? bahagia ? mungkin bagi anda yang memiliki “selera” normal, pasti jawabannya iya. Tapi kemudian pernahkah terpikir oleh anda, orang-orang yang memiliki “selera” yang lain daripada yang lain. Selera yang dianggap “tidak biasa” oleh kebanyakan orang, selera yang dianggap tabu, selera yang bisa membuat orang yang merasakannya terkucilkan dari pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya.
Cinta yang tulus dalam hatiku
Membuang semua hasrat dan mimpiku
Tuk bisa, menyatakan sayang
Tuk bisa, mengungkapkan semua
Kepada dirimu
Mungkin, seperti lirik di atas, apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki selera tidak biasa tadi. Mereka-mereka yang memiliki rasa kepada seseorang tetapi harus membuang jauh hasrat mereka untuk menyatakannya, hasrat yang rasanya akan sulit diterima. Terlebih bagi orang-orang yang tidak merasakan hal yang sama dengannya, dan mungkin juga bagi orang yang justru memberikan hasrat tersebut bagi dirinya.
Tak mungkin bagiku tuk memilikimu
Segala rasa yang pasti tak mungkin
Tuk bisa, kau terima semua
Tuk bisa, kunyatakan rasa kucinta kamu
Sulit dan tak mungkin, begitu rasa yang dimiliki oleh orang dengan selera berbeda ini. Sulit karena akan mendapatkan berbagai tantangan dari berbagai sisi dan tak mungkin karena hasrat yang dimilikinya tidak dimiliki juga oleh sang penakluk hati. Dilema, begitu mungkin kata yang dapat mewakili orang dengan selera berbeda ini, dilema yang tak kunjung mendapat jalan keluar, selalu dan selamanya berada di persimpangan.
Ketika bunga tak bermekar lagi
Dan dunia tak mungkin berputar lagi
Saat cinta tlah membakar hati ini
Kau kan tahu
Betapa aku mencintaimu
Betapa aku menginginkan kamu
Ya, mungkin hingga dunia ini berakhir, penantian panjang itupun akan berakhir. Berakhir, dengan tidak ada penyelesaian, berakhir hanya karena memang semuanya sudah harus berakhir. Bisa jadi ini yang memang diinginkan orang dengan selera berbeda ini, berakhir. Hanya saja karena tidak ada yang bisa dilakukannya untuk mengakhiri dilemanya, menunggu dengan sabar hingga semuanya berakhir sendiri, adalah keputusan bijak orang dengan selera berbeda ini.
Terinspirasi dari percakapan aneh dengan seorang teman, tentang lagu Waktu yang dinanti-Ungu, kepada siapa sebenarnya lagu ini ditujukan.
NB : Saya tidak termasuk orang dengan selera yang berbeda !
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar